Inilah Hukum Memakai Minyak Bulus Menurut 4 Imam Dalam Islam

hukum pemakaian minyak bulus menurut 4 imam dalam islam

Hukum pemakaian minyak bulus menurut islam – Meskipun ilmu kesehatan atau medis modern terus berkembang, begitu pula dengan perkembangan farmasi atau obat-obatan kimia yang semakin banyak jenisnya, namun metode pengobatan herbal atau obat-obatan alami masih tetap memiliki tempat di hati sebagian orang, bahkan tidak bisa ditinggalkan oleh sebagian orang.

Akan tetapi apabila membahas mengenai hukum obat-obatan alami terutama dalam agama islam, apakah semua obat-obatan alami hukumnya halal? Tentunya apabila dikupas secara detil maka pembahasan ini akan sangat panjang, namun kali ini bahasan kita tentang Hukum pemakaian minyak bulus menurut islam.

Banyak orang bertanya-tanya tentang hukum mengkonsumsi hewan bernama bulus atau biasa juga disebut labi-labi, tentunya ini akan berkaitan juga dengan Hukum pemakaian minyak bulus menurut islam. Labi-labi atau bulus termasuk hewan yang hidup di dua alam. Bulus biasanya hidup di air tawar dan dapat pula hidup di daratan.

 

Hukum Pemakaian Minyak Bulus Menurut Beberapa Ulama

Terdapat perbedaan pendapat diantara para ulama mazhab mengenai hukum hewan yang hidup di dua alam, ini berlaku pula bagi hukum mengenai pengkonsumsian daging bulus termasuk hukum pemakaian minyak bulus terutama bagi umat islam. Berikut ini rincian perbedaan pendapat ulama mazhab, sebagai berikut.

  1. Ulama Malikiyah

Pendapat ulama Malikiyah membolehkan secara mutlak hewan yang dapat hidup di dua alam diantaranya adalah katak, buaya, kura-kura, penyu, bulus atau labi-labi dan kepiting.

  1. Ulama Syafi’iyah

Berdasarkan pendapat ulama Syafi’iyah dibolehkan secara mutlak hewan yang dapat hidup di dua alam kecuali katak. Sedangkan hukum tentang burung air maka dihalalkan jika disembelih terlebih dulu dengan cara yang syar’i.

  1. Ulama Hambali

Menurut pendapat ulama Hambali, hewan yang hidup di dua alam tidaklah halal terkecuali bila disembelih terlebih dahulu. Akan tetapi berbeda dengan kepiting, maka diperbolehkan untuk tidak menyembelih kepiting karena termasuk jenis hewan yang tidak memiliki saluran darah.

  1. Ulama Hanafiyah

Menurut pendapat ulama Hanafiah, semua hewan yang hidup di dua alam tidak halal. Hanya hewan air yang dihukumi halal, dan itu hanyalah berlaku bagi ikan. Penjelasan lebih rinci dapat dilihat di dalam kitab Al Ath’imah, halaman 91-92.

 

Hukum Pemakaian Minyak Bulus Dari Sudut Pandang Agama Islam

Sebenarnya di dalam Al-Qur’an maupun Hadits, terutama hadits yang shahih, tidak ada dalil yang menjelaskan tentang keharaman hewan yang hidup di dua alam, terkecuali hukum tentang katak dan buaya. “Setiap hewan yang dapat hidup dalam air boleh dimakan terkecuali katak dan buaya.” Berdasarkan rujukan dari kitab Tuhfatul Ahwadzi bi Syarh Jaami’ At Tirmidzi oleh Abul ‘Alaa Al Mubarakfuri yang mengutip pendapat dari Imam Ahmad.

Kemudian berdasarkan hadits, nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap hewan buas dan bertaring, maka memakan dagingnya adalah haram.” (HR. Muslim). Hadits lainnya adalah “Ada seorang tabib menanyakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai katak, apakah boleh dijadikan obat. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang untuk membunuh katak.(HR. Abu Daud dan Ahmad. Syaikh Al Albani menyatakan hadits ini shahih)

Dengan demikian hewan bernama bulus atau labi-labi yang termasuk hewan dapat hidup di dua alam, maka dasar hukumnya akan kembali pada kaidah asal yaitu “Hukum asal segala sesuatu itu adalah halal terkecuali bila terdapat dalil yang jelas mengharamkannya”, dan kaidah asal ini pastinya juga berlaku pada Hukum pemakaian minyak bulus menurut islam.

Belum selesai mengenai hukum daging bulus maupun hukum pemakaian minyak bulus, karena Ibnu Qudamah menjelaskan bahwa setiap hewan air yang dapat pula hidup di daratan, maka hukumnya tidak halal kecuali bila disembelih lebih dulu. Contohnya adalah burung air, kura-kura, penyu, bulus dan anjing laut. Akan tetapi bagi hewan yang tidak memiliki saluran darah seperti kepiting maka hukumnya halal meski tidak melalui penyembelihan lebih dulu.

Jadi kesimpulan mengenai hukum mengkonsumsi daging bulus maupun Hukum pemakaian minyak bulus menurut islam adalah “Dihalalkan hukumnya untuk mengkonsumsi daging bulus dan halal pula hukum pemakaian minyak bulus , asalkan melalui proses penyembelihan terlebih dulu, karena bulus termasuk jenis hewan yang hidup di dua alam dan memiliki saluran darah.”.

Bagi Anda yang selama ini bertanya-tanya mengenai Hukum pemakaian minyak bulus menurut islam sebagai obat alami, maka dengan pembahasan dalam artikel ini tak perlu Anda ragu lagi mengenai hukum pemakaian minyak bulus.

 

Ketahui Sebelum Membeli, Apakah Minyak Bulus Itu Najis Fakta?

 

Efek Samping Minyak Bulus Untuk Pria Jika Digunakan Pada Mr.P

pabrikminyakbulus